Kimia Hijau dalam Sustainable Development Goals 2030

https://sdgs.un.org/

Oleh : Anggraini Nugroho P., S. Pd.

Ada yang sudah pernah mendengar istilah Sustainable Development Goals (SDGs)? Jika belum, dalam artikel kali ini kami akan membahas tentang apasih SDGs?

SDGs (Sustainable Development Goals) atau yang dikenal Global Goals merupakan seruan universal untuk bertindak mengakhiri kemiskinan, melindungi dan memastikan bahwa semua orang menikmati kedamaian dan kemakmuran yang diterbitkan pada tanggal 21 Oktober 2015 sebagai tujuan pembangunan bersama sampai tahun 2030 yang disepakati oleh berbagai Negara dalam forum resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). SDGs adalah hasil dari proses yang bersifat partisipatif, transparan dan inklusif terhadap semua suara pemangku kepentingan dan masyarakat selama tiga tahun. SDGs akan mewakili sebuah kesepakatan yang belum terjadi sebelumnya yang terkait prioritas-prioritas pembangunan berkelanjutan diantara 193 Negara Anggota.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, SDGs (Sustainable Development Goals) memiliki 17 upaya dimana upaya tersebut bersifat global dan dapat diaplikasikan secara universal yang dipertimbangkan dengan berbagai realitas nasional, kapasitas serta tingkat pembangunan yang berbeda dan menghormati kebijakan serta prioritas nasional. Upaya dan Target SDGs tidak berdiri sendiri, perlu adanya implementasi yang dilakukan secara terpadu.

Upaya dari SDGs (Sustainable Development Goals) yang salah satu upayanya adalah poin nomor 6 yaitu air bersih dan sanitasi. Bertujuan untuk pengelolaan air bersih dan sanitasi berkelanjutan. Air yang layak merupakan kebutuhan dasar manusia. Air yang bersih dan sanitasi yang layak termasuk dalam sektor lingkungan hidup universal.Penyebab air keruh dan berbau adalah faktor kontaminan dan kondisi lingkungan sekitar karena ketidakmampuan dalam memusatkan perhatian terhadap pengelolaan air bersih untuk mampu memenuhi kebutuhan secara universal dan mampu memenuhi konsumsi berkelanjutan.

Goal 6 infographic, source: https://unstats.un.org/sdgs/report/2022/

Produksi air dan pengelolaan sanitasi dibantu dengan teknologi serta inovasi yang pastinya ramah lingkungan sesuai dengan prinsip kimia hijau yang aman bagi lingkungan. Contoh aktivitasnya adalah dengan mereduksi polusi, khususnya polusi air, yakni dengan meminimalisir pembuangan bahan kimia berbahaya, mengolah limbah yang akan dibuang terlebih dahulu. Dikutip dari laman WHO yang menyatakan, ”Contaminated water and poor sanitation are linked to transmission of diseases such as cholera, diarrhoea, dysentery, hepatitis A, typhoid and polio. Absent, inadequate, or inappropriately managed water and sanitation services expose individuals to preventable health risks. This is particularly the case in health care facilities where both patients and staff are placed at additional risk of infection and disease when water, sanitation and hygiene services are lacking. Globally, 15% of patients develop an infection during a hospital stay, with the proportion much greater in low-income countries.” (https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/drinking-water). Air yang terkontaminasi dan sanitasi yang butruk dapat menyebabkan berbagai penyakit dan infeksi khususnya pada negara-negara yang tidak memiliki kualitas air yang baik.

shutterstock.comDalam ilmu kimia, terdapat teknologi menggunakan proses distilasi dalam metode penjernihan air dengan cara dipanaskan hingga mengalami evaporasi yang disalurkan dalam tabung atau bejana terpisah, kemudian memanfaatkan pendingin untuk proses kondensasi, sehingga didapatkan air yang jernih. Selain itu dapat menggunakan bahan alami seperti teratai, enceng gondok dan pula biji kelor. Berbagai upaya untuk mendapatkan air bersih dan sanitasi yang layak dapat dilakukan dengan dukungan tekonologi dan inovasi. Oleh karena itu, mari menjaga kelestarian dan ketersediaan air untuk masa depan generasi penerus.